Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya
ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal
dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri
sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan
pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut
atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari
perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam
kesengsaraan batin dan kegelisahan.
Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah
kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya.
Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam
dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang
lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar
pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada
ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya
tersebut.